Kamis, 06 Mei 2010

Berbakti kepada kedua orang tua, sebuah jihad yang terlalaikan

Telah berfirman Allah ta’ala :
وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ المَصِيرُ

Artinya : ” Dan telah kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tunanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepadaKulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Tidak butuh banyak kata-kata menafsirkan ayat ini, Insya Allah semua yang membaca akan paham tentang makna yang dikandungnya. Dalam ayat ini tergambar jelas perintah Allah kepada para hambanya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua mereka. Suatu perkara yang pada zaman ini seakan-akan menjadi sesuatu yang sulit ditemui. Bahkan sebaliknya, sumpah serapah, kata-kata kasar bahkan kalimat-kalimat tidak pantas telah menjadi makanan sehari-hari para orang tua. Dan anehnya sebagian manusia terkadang lebih hormat dan tunduk kepada atasannya di kantor atau kepada guru mereka di sekolah dibandingkan dengan kepada orang tuanya yang telah mengandung dan merawatnya dengan susah payah. Bahkan samapai-sampai apabila berbicara kepada guru atau atasan di kantornya sampai badannya sedikit membungkuk dan kepala menunduk-nunduk. Aneh, sungguh aneh..

Mari luangkan waktu kita sejenak wahai saudaraku untuk merenungi ayat, hadits dan ucapan para ulama tentang perkara penting ini, semoga setelah itu Allah memberikan hidayah dan taufiknya kepada kita untuk menjelma menjadi seorang manusia yang pandai bersyukur dan membalas budi kepada manusia-manusia yang paling berjasa di hidupnya.

Sungguh Allah telah memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua di beberapa tempat dalam Al Qur’an, diantaranya :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya : ” Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali hanya kepadaNya, Dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah seorang atau keduanya berada dalam pemeliharaanmu sampai berumur lanjut, janganlah sekali-kali berkata kepada mereka “Uf” dan janganlah membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al-Isra’ : 23-24)

Dan Allah ta’ala juga berfirman di dalam surat yang lain :
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya : “Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan sesuatu apa pun bersamanya serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An-Nisa’ : 36)

Dan berfirman di dalam surat yang lain :
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Artinya : ” Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil , Janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. Al-Baqarah : 83)

Berkata Ibnu Katsir tentang tafsir ayat ini : ” Dan inilah hak-hak yang paling tinggi dan paling besar, yaitu Hak Allah Tabarrak wa ta’ala untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya . Kemudian hak-hak makhluknya yang paling tinggi dan paling utama yaitu hak kedua orang tua. Untuk inilah Allah mennyandingkan hakNya daan hak kedua orang tua” ( Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Baqarah : 83)

Dan sungguh wahai saudaraku, di dalam amalan berbakti kepada kedua orang tua terdapat keutamaan-keutamaan besar yang sebagian tidak terkandung pada amalan sholih lainnya , diantaranya adalah :

A. Termasuk dari amalan yang paling mulia

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu , Beliau berkata : ” Aku bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam , “amalan apakah yang paling dicintai Allah ?”, beliau menjawab : : “Sholat tepat pada waktunya” kemudian aku bertanya lagi: ” Kemudian apalagi ? “ beliau menjawab : ” Berbakti kepada kedua orang tua”. Kemudian aku bertanya lagi : ” Kemudian apalagi ?” Beliau menjawab :” Berjihad di jalan Allah” (HR. Bukhori No. 5970 dan Muslim No. 85)

B. Akan dihilangkannya kesulitan dan bala bencana .

Sebagaimana kisah teantang tiga orang yang terperangkap di dalam gua karena pintu gua tertutup oleh batu besar, maka masing-masing dari mereka berdoa kepada Allah dengan amalan yang mereka anggap paling sholih. Dan salah satu dari mereka berdoa dengan amalannya berbakti kepada kedua orang tua. Maka Allah angkat marabahaya dari mereka dengan bergesernya batu di depan pintu gua. ( Hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma Riwayat Bukhori No. 2215 dan Muslim No. 2743)

C. Sebab terkabulnya doa

Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu , Beliau berkata : ” Aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : ” Akan datang kepada kalian Uways bin amir bersama penduduk Ahlu Yaman, berasal dari Murod dan kemudian dari Qorin. Dahulu dia pernah tertimpa penyakit kulit kemudian sembuh dari penyakit tersebut kecuali tinggal sebesar kepingan dirham. Dia memilki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya, seandainya saja dia meminta kepada Allah untuk menyembuhkan (sisa) penyakitnya tersebut maka akan disembuhkan baginya. Apabila engkau (Wahai Umar) mampu meminta dia untuk memohonkan ampun (kepada Allah) untukmu maka lakukanlah” (HR. Muslim 2543)

D.Sebab Masuk ke dalam surga

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata : ” Telah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : ” Ketika aku sedang tertidur, maka aku melihat diriku berada di dalam surga kemudian aku mendengar seseorang membaca Al-Qur’an. Maka aku bertanya : “Siapa ini ?” Mereka mengatakan : “ini adalah Haritsah bin Nu’man” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berkata kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha : ” Begitulah balasan bagi orang yang berbakti kepada kedua orang tua , Begitulah balasan bagi orang yang berbakti kepada kedua orang tua (beliau mengulanginya dua kali.) dan dialah manusia yang paling berbakti kepada ibunya “ (HR. Ahmad 6/152, Al-Hakim dalam Al-Mustadrok 3/208. Dishohihkan Al-Albani dalam As-Shohihah No. 913)

Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : “ Sungguh celaka, Sungguh celaka, Sungguh celaka” maka ada yang bertanya : ” Siapa dia wahai Rasulullah?” beliau menjawab : ” Barangsiapa yang menemui salah seorang atau kedua orang tuanya dalam keadaan tua, dan tidak menyebabkan dia masuk surga” (HR. Muslim No. 9 dan Bukhori dalam Adabul Mufrod No. 16)

E. Sebab keridhoan Allah adalah ridho orang tua

Dari Abdullah bin Amr’ Radhiyallahu ‘anhuma , Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Keridhoan Allah bersama Ridho orang tua dan kemurkaan Allah bersama murka orang tua” (HR. Tirmidzi No.1899 dan Dishohihkan Al-Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi No. 1549)

F. Termasuk amalan Jihad

Dari Abdullah bin Amr’ Radhiyallahu ‘anhuma, Beliau berkata : Seorang lak-laki bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam : ” Bolehkah aku turut berjihad ?” maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bertanya : ” Apakah engkau masih memilliki kedua orang tua ?” maka dia menjawab : “Ya” maka Rasulullah mengatakan : ” Maka kepada keduanyalah engkau berjihad “ (HR. Bukhori-Muslim)

Selain perkara-perkara yang sudah disebutkan, ada perkara lain yang terkait dengan berbakti kepada kedua orang tua, yaitu :

Berbakti kepada Ibu lebih didahulukan dibanding berbakti kepada ayah

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , Beliau berkata : ” Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan bertanya : ” Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik ?” Beliau menjawab : ” Ibumu “ kemudian laki-laki itu bertanya lagi : ” Kemudian siapa ? “ beliau menjawab : ” Ibumu “. kemudian laki-laki itu bertanya lagi : ” Kemudian siapa ? “ beliau menjawab : ” Ibumu “. kemudian laki-laki itu bertanya lagi : ” Kemudian siapa ? “ Rasulullah menjawab : ” Kemudian ayahmu.” (HR. Bukhori 5971 dan Muslim 2547)

Dan Al-Muhaasiy telah berpendapat dalam kitabya Ar-Ri’ayah, Bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah dengan tigaperempat kebaikan untuk ibu dan untuk ayah seperempatnya, berdasarkan pendalillan dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.

Bolehnya berbakti kepada orang tua yang kafir apabila memungkinkan.

Dari Asma’ bintu Abi Bakar Radhiyallahu ‘anhuma, Beliau berkata :” Ketika zaman Rasulullah, Ibuku datang menjengukku (Ibu beliau kafir. Pen) maka aku bertanya kepada Rasulullah , Apakah aku boleh menyambung silaturahmi dengannya. Maka Rasulullah menjawab :” ya” (HR. Bukhari-Muslim)

Dan perhatikanlah bagaimana para ulama berbakti kepada kedua orang tuanya.

Dari Muhammad Al-Munkadir, beliau berkata : ” Saudaraku Umar menghabiskan malamnya dengan melakukan sholat dan aku menghabiskan malamku dengan memijat kaki ibuku. Dan tidaklah aku lebih mencintai malam saudaraku dibanding malamku sendiri “ (As-Siyar 5/359)

Berkata Abu Bakar bin Iyas, : ” Dahulu aku pernah duduk bersama Mansyur bin Mu’tamir di rumahnya, maka ibunya memanggilnya dengan keras dan beliau memang memiliki sifat keras. Ibunya berkata :” Ibnu Hubairoh menginginkan engkau untuk memutuskan suatu perkara, maka mengapa engkau tidak memenuhinya ?” dan Mansyur bin Mu’tamir menunduk menempelkan janggutnya dia atas dadanya, tidak berani mengangkat kepalanya memandang kepada ibunya” (As-Siyar 5/405)

Saudaraku, setelah mengetahui tentang keutamaan-keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, maka harus diketahui tentang makna berbakti kepada kedua orang tua dan batasan ketaatan mereka.

Berkata Hasan Al-Bashri : ” Berbakti kepada kedua orang tua adalah mencurahkan seluruh apa-apa yang engkau miliki dan menaati apa-apa yang mereka perintahkan kecuali dalam perkara maksiat” (Ad-Darul Mansyur 5/259)

Berkata Ibnul Jauzi : ” Berbakti kepada keduanya dengan menaati perintah keduanya selama bukan perkara yang terlarang, mendahulukan perintah keduanya diatas amalan-amalan Sunnah, menjauhi apa-apa yang mereka larang, menyantuni mereka, menunaikan keinginan mereka, bersungguh-sungguh dalam melayani mereka, beradab dan menyegani keduanya. Maka janganlah seorang anak mengangkat suaranya diatas suara kedua orang tuanya dan janganlah memanggil mereka dengan namanya. Apabila berjalan, berjalanlah di belakang mereka dan sabar atas apa-apa yang dibenci yang ada pada mereka”. (Al-Biir Was Silah hal. 57)

Adapun ketika orang tua memerintahkan sesuatu atau menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka boleh bagi kita untuk tidak menaatinya dalam perkara tersebut dan tetap menaatinya dalam perkara-perkara lainnya.

Berkata Imam Bukhori dalam Shohihnya : “Bab berbakti kepada kedua orang tua di dalam perkara-perkara yang bukan maksiat”

Berkata Imam At-Thobari : ” Jadilah engkau di depan keduanya (orang tua) dengan merendahkan diri dan berikan kasih sayang darimu dengan menaati keduanya dengan apa-apa yang mereka perintahkan di dalam perkara-perkara yang bukan maksiat serta tidak meyelisihi mereka di dalam apa-apa yang mereka cintai” (Tafsir At-Thobari 14/550)

Dan salah satu dalil tentang perkara ini adalah kisah Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu , Beliau berkata : ” Sebab diturunkannya surat :

وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

(Artinya : ” Dan telah kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan bersamaku sesuatu yang engkau tidak memilki pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu menaati keduanya. Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa-apa yang telah engkau kerjakan ” (QS. Al-Ankabut : 8 ) Adalah berkaitan denganku. Dahulu aku sangat berbakti kepada ibuku, ketika aku telah masuk Islam, ibuku berkata kepadaku :” Wahai Sa’ad agama apa ini ? agama yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Sungguh engkau harus meninggalkan agama ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku akan mati. Maka engkau akan dijuluki “Wahai orang yang telah membunuh ibunya”. Maka aku berkata ” Jangan engkau melakukannya wahai ibuku, sesungguhnya aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini demi apa pun” Maka berlalulah satu hari satu malam dalam keadaan ibuku tidak mau makan dan minum, maka ketika sudah melewati malam, maka sungguh ibuku mulai lemas. Ketika aku melihatnya seperti itu, maka aku berkata : ” Wahai ibuku. Ketahuilah. Demi Allah seandainya engkau memiliki seratus nyawa dan engkau keluarkan satu demi satu, sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku. Maka terserah engkau, apakah engkau mau makan atau tidak.” Maka setelah melihat pendirianku, ibuku mau makan.” (As-Siyar 1/109)

Inilah saudaraku, sekelumit catatan ringkas tentang wajibnya berbakti kepada kedua orang tua, berbakti kepada dua manusia yang paling berjasa dalam hidup kita.
READ MORE - Berbakti kepada kedua orang tua, sebuah jihad yang terlalaikan

Kunci Sukses Bermu'amalah

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

Dalam hidup ini, setiap insan pasti berhubungan dengan orang lain. Ia hidup dikelilingi tetangga kanan dan kiri, muka dan belakangnya, dengan berbagai macam corak ragam, tingkah laku dan latar belakangnya. Ada yang muslim, dan barangkali ada pula yang non muslim. Ada yang multazim, dan ada pula yang fasik. Ada yang terpelajar dan ada yang awam.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kepada kita pentingnya menjaga hak-hak tetangga ini. Tetangga memiliki kedudukan yang agung dalam kehidupan beliau. Beliau bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِي بِالجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

"Malaikat Jibril q senatiasa mewasiatkan agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira ia (Jibril) akan memberikan hak waris (bagi mereka)". [Muttafaqun 'alaihi].



Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu :

يَا أَبَا ذَرٍّ, إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاؤُهَا وَ تَعَاهَدْ جِيْرَانَكَ

"Wahai, Abu Dzar. Jika engkau memasak makanan, perbanyaklah kuahnya, janganlah engkau lupa membagikannya kepada tetanggamu". [HR Muslim]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga memperingatkan dari bahaya menggangu tetangga.

لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

"Tidak akan masuk surga, seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya". [HR Muslim]

Dengan akhlak seperti ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berhasil menguasai hati, perasaan dan pikiran manusia. Sehingga, dalam bermu'amalah kepada manusia, kita harus mengedapankan akhlak yang terpuji.


Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepadaku :

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

"Bertaqwalah dimanapun engkau berada, dan iringilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia" [HR at Tirmidzi, dan ia berkata,"Hadits hasan shahih". Juga dishahihkan oleh al Albani di dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2516]

Demikian pula dalam bermu'amalah dengan manusia, seharusnya bersikap santun, memilih kata-kata yang dapat menyejukkan hati. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa dan Harun Alaihissalam untuk berkata lemah-lembut kepada orang yang paling keras kekafirannya, yaitu Fir'aun :" Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". [Thaha/20:44].

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku :

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ

"Janganlah engkau menganggap remeh suatu kebaikan, walaupun sekedar bermanis muka ketika engkau bertemu dengan saudaramu" [Diriwayatkan oleh Muslim]

Diriwayatkan dari 'Adiy bin Hatim Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

"Jagalah dirimu dari neraka, meskipun dengan memberikan sebutir kurma. Jika kamu tidak mendapatinya, maka dengan mengucapkan kata-kata yang baik".[Muttafaq alaihi]

Begitu pula, seharusnya menghindari sikap keras dalam bermu'amalah dan kata-kata yang kasar dalam berbicara. Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman, yang artinya : "Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu". [Ali Imran/3 : 159]

Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لاَ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

"Barangsiapa yang tidak menyayangi sesama manusia, maka Allah Azza wa Jalla pun tidak akan menyayanginya" [Muttafaqun 'alaihi]

Secara tabiat, manusia tidak suka dikasari. Sulaiman bin Mihran berkata, "Tidaklah engkau membuat marah seseorang, lalu ia mau mendengarkan kata-katamu."

Oleh karena itu, sikap kasar dan berlagak dalam berbicara merupakan perkara yang dibenci oleh Nabi. Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun". Sahabat bertanya : "Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?" Beliau menjawab,"Orang yang sombong." [HR at Tirmidzi, ia berkata: "Hadits ini hasan". Hadits ini dishahihkan oleh al Albani dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2018]

الثَّرْثَارُونَ (tsartsarun), banyak omong dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran.

الْمُتَشَدِّقُونَ (mutasyaddiqun), kata-kata yang meremehkan orang lain dan berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya dan bangga dengan perkataannya sendiri.

الْمُتَفَيْهِقُونَ (mutafaihiqun), berasal dari kata al fahq, yang berarti penuh. Maksudnya, seseorang yang berbicara keras panjang lebar, disertai dengan perasaan sombong dan pongah, serta menggunakan kata-kata asing untuk menunjukkan, seolah dirinya lebih hebat dari yang lainnya.

At Tirmidzi juga meriwayatkan dari 'Abdullah bin al Mubarak rahimahullah mengenai maksud akhlak yang mulia. Ia berkata,"Yaitu bersikap ramah, memberikan kebaikan kepada orang lain, serta tidak mengganggunya."

Apalagi menghadapi kebanyakan orang, kita harus banyak bersabar. Jika menolak terhadap perbuatan mereka yang kasar, lakukanlah dengan cara yang terbaik. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya : "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar" [Fushshilat/41 : 34-35].

Hal seperti ini telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam sebuah kisah disebutkan, dari Mu'awiyah bin al Hakam as Sulami , ia berkata :

Ketika aku mengerjakan shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seseorang yang bersin. Aku (pun) berkata : "Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu)."

Orang-orang memandang ke arahku. Aku berkata: "Malangnya ibuku! Mengapa kalian memandangku seperti itu?" Merekapun menepukkan tangan ke paha. Setelah mengerti, bahwa mereka menyuruhku diam, maka akupun diam.

Setelah Rasulullah menyelesaikan shalat, maka demi Allah, tidak pernah aku melihat seorang pendidik sebelum maupun sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku dan tidak mencelaku. Beliau hanya berkata:

إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ

"Sesungguhnya ibadah shalat tidak boleh dicampuri percakapan manusia. Ibadah shalat hanya boleh diisi dengan ucapan tasbih, takbir dan bacaan al Qur`an".

Atau sebagaimana yang dikatakan oleh beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Aku berkata,"Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya aku baru saja masuk Islam. Allah telah menurunkan dinul Islam kepada kami. Sesungguhnya di antara kami masih ada yang mendatangi dukun."
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menimpali: "Jangan datangi dukun!"
"Di antara kami masih ada yang suka bertathayyur," lanjutku.

[Tathayyur adalah anggapan sial karena melihat atau mendengar sesuatu. Misalnya, melihat burung tertentu atau mendengar suara binatang tertentu, kemudian beranggapan akan terjadi suatu musibah. (Pen)]

Rasulullah menjawab,"Itu hanyalah sesuatu yang terlintas dalam hati, maka jangan sampai mereka menangguhkan niat karenanya."
Kemudian aku lanjutkan: "Sesungguhnya di antara kami masih ada yang mempraktekkan ilmu ramal".
Rasulullah menjawab,"Dahulu ada nabi yang menggunakan ilmu ramal. Apabila yang terjadi sesuai dengan ramalannya, maka itu hanyalah kebetulan saja."
Mu'awiyah bin al Hakam as Sulami melanjutkan ceritanya :

"Aku memiliki beberapa ekor kambing yang digembalakan oleh salah seorang budak wanitaku di antara gunung Uhud dan bukit Jawwaniyah. Pada suatu hari, aku datang memeriksa kambing-kambingku. Ternyata seekor serigala telah membawa lari seekor kambingku. Sebagaimana lumrahnya seorang manusia, akupun marah lalu kutampar budak wanita itu. Lalu aku datang menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengadukan peristiwa tersebut. Beliau menganggap perbuatanku itu sangat keterlaluan.

Maka kukatakan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai, Rasulullah. Tidakkah lebih baik jika kubebaskan saja budak wanita itu?"
Rasulullah menjawab,"Panggilah ia kemari!" Akupun memanggil budak wanita itu. Rasulullah bertanya kepadanya :
أَيْنَ اللهُ؟
"Dimana Allah?"
"Di langit," jawabnya.
"Siapakah aku?" tanya Rasulullah lagi.
"Engkau adalah utusan Allah," jawabnya. Maka Rasulullah pun berkata:
أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
"Merdekakan ia, karena ia seorang wanita mukminah". [HR Muslim]

Coba lihat, bagaimana terjadi dialog yang panjang antara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan Mu'awiyah bin al Hakam, yang waktu itu ia baru saja memeluk Islam. Dengan sikap beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang santun, Mu'awiyah tergerak untuk berdialog dengan beliau. Ia mendengarkan kata-kata beliau dan mengadukan masalah-masalah yang ia hadapi kepada beliau.

Coba lihat penuturannya: "Demi Allah. Tidak pernah aku melihat seorang mu'allim (pendidik) sebelum dan sesudahnya yang lebih baik pengajarannya daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak memukulku dan tidak mencelaku. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam hanya berkata: 'Sesungguhnya ibadah shalat tidak boleh dicampuri percakapan manusia. Ibadah shalat hanya boleh diisi dengan ucapan tasbih, takbir dan bacaan al Qur`an'."

‘Aisyah Radhiyallahu 'anha menuturkan, setiap kali disampaikan kepada beliau sesuatu yang kurang berkenan dari seeorang, beliau tidak berkata “apa diinginkan 'fulan' (menyebut nama) berkata demikian", namun beliau mengatakan "apa yang diinginkan 'mereka' berkata demikian”. [HR Tirmidzi].

Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu menceritakan, pernah, suatu kali seorang lelaki datang menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan bekas celupan berwarna kuning pada pakaiannya (bekas za’faran). Biasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat jarang menegur sesuatu yang dibencinya pada seseorang di hadapannya langsung. Setelah lelaki itu pergi, beliau pun berkata: “Alangkah elok bila engkau suruh lelaki itu supaya menghilangkan bekas za’faran dari bajunya”. [HR Abu Dawud dan Ahmad].

'Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ حُرِّمَ عَلَى النَّارِ أَوْ تُحْرَمُ عَلَيْهِ النَّارُ ؟ تُحْرَمُ عَلَى كُلِّ قَرِيْبٍ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ

"Inginkah aku kabarkan kepadamu orang yang diselamatkan dari api neraka, atau dijauhkan api neraka darinya? Yaitu setiap orang yang ramah, lemah-lembut dan murah hati". [HR Tirmidzi]

‘Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata :

لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ n فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا, وَلاَ صَخَّابًا فِي الأَسْوَاقِ وَلاَ يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ, وَلكَنْ يَعْفُو وَ يَصْفَحُ

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah seorang yang keji, dan (ia) tidak suka berkata keji. Beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan" [HR Ahmad].

Demikianlah akhlak beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam selaku Nabi dengan penuh kasih sayang selalu memberi petunjuk dan memberi nasihat. Semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau.

"Al Husain, menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata : Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku mengatakan, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti luhur lagi rendah hati. Beliau bukan seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang mencela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkannya, pasti tidak akan kecewa. Dan siapa saja yang memenuhi undangannya, pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara, (yaitu) riya, berbangga-bangga diri, dan dari yang tidak bermanfaat. Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara, (yaitu): beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala. Jika berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka di sisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat g selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu, guna mengambil manfaat. Beliau bersabda,"Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia.” Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seseorang, kecuali orang itu melanggar batas. Beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya, atau berdiri meninggalkan majelis" [HR at Timidzi].

Tak hilang dari ingatan kita, yaitu kisah seorang Arab Badui yang buang air kecil di dalam masjid, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya: "Sesungguhnya masjid ini bukan untuk kencing atau membuang kotoran lainnya. Sesungguhnya masjid ini untuk dzikrullah dan bacaan al Qur`an."

Rasulullah berkata kepada para sahabat : "Biarkanlah dia, dan siramlah kencingnya dengan seember air. Atau segayung air. Sesungguhnya aku diutus untuk memudahkan, bukan untuk menyusahkan".

Saking gembiranya orang Arab Badui itu, sehingga ia berdoa: "Ya Allah ampunilah aku dan Muhammad, dan jangan ampuni selain kami berdua."

Sikap-sikap seperti ini yang diterapkan dalam bermu'amalah di antara sesama manusia. Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mencontohkannya kepada kita. Demikian pula para ulama, mereka adalah pewaris Nabi. Mereka juga telah mencontohkan sikap-sikap seperti ini dalam bermu'amalah kepada manusia. Tidak bersikap mentang-mentang dan semau gue. Sebagai misal, coba lihatlah akhlak yang dicontohkan Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin dalam bermu'amalah kepada orang lain. Beliau t mempunyai sifat ulama rabbani yang rendah hati, juga rajin membantu keluarga.

Sebagaimana dikisahkan oleh Abdul Karim bin Shalih al Muqrin dalam kitab 14 'Aaman Ma'a Samahatul 'Allamah Muhammad bin Shalih bin 'Utsaimin.

Pada suatu hari, saat kami sedang merekam program Nurun 'Ala Darb pada waktu dhuha. Tiba-tiba pintu diketuk seorang tukang pipa yang sudah berjanji dengan syaikh untuk memperbaiki pipa air. Maka beliau memberikan isyarat kepadaku agar menghentikan rekaman. Lalu beliau mempersilakan tukang pipa tersebut masuk. Kemudian beliau mendatangiku sambil tersenyum dan berkata: "Maaf ya Abu Khalid, kami memotong waktu Anda setengah jam untuk menperbaiki pipa air yang ada di halaman."

Kukatakan: "Tidak mengapa ya Syaikh," kemudian tukang pipa itu memulai pekerjaannya memperbaiki pipa, dan syaikh membantunya untuk memegang beberapa perkakas tukang pipa tersebut hingga ia selesai memperbaikinya.
Untuk memanfaatkan waktu senggang tersebut aku membaca kembali soal-soal yang akan ditanyakan kepada Syaikh. Setelah tukang pipa itu selesai memperbaiki pipa air, ia pun keluar. Lalu Syaikh mendatangiku dengan tersenyum.

Kisah yang lain yaitu, ketika rekaman sedang berlangsung lebih kurang jam sepuluh pagi, tiba-tiba ada dua orang yang mengetuk pintu, lalu Syaikh membukakan pintu dan memberikan salam. Beliau melihat, bahwa orang ini nampaknya datang dari jauh, kemudian beliau mempersilahkan untuk masuk dan mengabarkan kepada mereka, bahwa beliau sedang merekam untuk acara radio. Kemudian beliau menanyakan keperluan mereka.

Salah seorang mereka berkata: "Kami datang dari salah satu kota di negara ini yang akan menanyakan tentang masalah perceraian". Karena salah seorang mereka telah menceraikan istrinya dan ingin rujuk. Mereka juga membawa surat pengantar dari perwakilan dakwah yang ada di kota mereka yang ditujukan kepada Syaikh, dan di dalamnya terdapat keterangan yang rinci tentang duduk permasalahannya.

Setelah beliau menanyaikan beberapa permasalahan tentang perceraian tersebut, beliau menuliskan jawaban permasalahan ini kepada kantor dakwah dan irsyad yang ada di kota mereka. Orang tersebut kelihatannya mempunyai beberapa kekurangan dalam melaksanakan syari'at. Ia memakai baju yang melebihi mata kaki, dan hal lain yang menyalahi syar'i. Adapun temannya, kelihatannya seorang yang taat.

Satu jam lamanya syaikh melayani keperluan orang ini. Setelah beliau selesai memberikan fatwa kepada orang ini, Syaikh mengingatkannya agar memperbaiki pakaiannya, dan memberi nasihat agar mereka berusaha melakukan amalan-amalan kebaikan, serta menghindari hal-hal yang dilarang syar'i. Kemudian syaikh pergi ke dalam untuk menghidangkan teh, kopi dan kurma. Kami duduk bersama beliau sambil menikmati teh dan kopi tersebut.
Di tengah pembicaraan kami, orang yang mempunyai permasalahan tersebut berkata: "Ya Fadhilatusy- Syaikh. Aku banyak mempunyai kekurangan dalam menjalankan syari'at. Namun setelah Anda menasihatiku, melepaskan dari kesulitan yang menimpaku, dan setelah aku rujuk kepada istriku, aku berjanji kepada Allah kemudian kepadamu, untuk istiqamah dan melakukan amal kebaikan serta mentaati Rabb-ku."

Mendengar hal itu, Syaikh merasa gembira dan wajahnya berbinar-binar. Kemudian kedua orang itu pamit dan mencium kening Syaikh serta berdoa untuk beliau. Kemudian, sekitar pukul setengah dua belas kami meneruskan rekaman. Kisah ini masih segar di ingatanku. Syaikh berkata: "Tahukah engkau, ya Abdul Karim betapa banyak pahala yang kita peroleh jika orang itu bertaubat, melaksanakan kebaikan dan melakukan amal shalih," lalu beliau tersenyum dan memuji Allah, kemudian kami meneruskan rekaman.

Juga terdapat kisah lainnya.
Kami bertugas di bagian perekaman. Ketika kami merekam beberapa pertemuan untuk program siaran Nurun 'Ala Darb, pada saat yang sama terdengar suara pekerja bangunan yang sedang bekerja di dekat rumah beliau, yaitu tetangga beliau. Kelihatannya ia sedang membetulkan sesuatu pada mesin, dan suara tersebut masuk ke dalam rekaman. Syaikh Ibnu 'Utsaimin berdiri mendatangi mereka, meminta agar mereka menghentikan pekerjaan tersebut. Ketika sampai di pintu ruangan, beliau kembali dan bertanya: "Wahai Abdul Karim, siapa yang mulai terlebih dahulu?"

"Mereka, ya Syaikh," jawabku.

Karena kewara'an dan kekhawatirannya, beliau membiarkan mereka bekerja, beliau berkata: "Kalau begitu, kita tunda dulu rekaman ini sampai mereka menyelesaikan pekerjaan tersebut".

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Walau bagaimanapun keadaan saudara-saudara kita sesama muslim yang awam itu, mereka ibarat tambang emas dan perak. Jikalau Allah membuka hati mereka untuk menerima kebenaran, maka akan menjadi asset yang berguna bagi Islam. Bahkan kadang kala, mereka rela berkorban demi membela agama ini.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا وَالْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

"Manusia ibarat barang tambang berharga seperti tambang emas dan perak. Orang yang mulia pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang mulia juga dalam Islam apabila ia berilmu. Ruh ibarat pasukan yang dikumpulkan, ia akan bersatu jika serasi dan akan berselisih jika tidak serasi". [HR Muslim].

Setiap orang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Tidak ada manusia yang sempurna. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan, semua anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang cepat-cepat bertaubat. Ini merupakan asas yang paling agung. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah meletakkan asas tersebut dalam bermu’amalah terhadap manusia.

Jika kita membangun hubungan mu’amalah kita dan sikap kita terhadap manusia atas dasar akhlak-akhlak yang terpuji, niscaya kita melihat sambutan yang hangat dari mereka. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

"Tidak beriman salah seorang dari kamu, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri". [Muttafaqun 'alaihi]

Washallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa ash-habihi wa sallam.

Maraji':
1. Al Qur`anul-Karim.
2. 14 'Aaman Ma'a Samahatul-Allamah Muhammad bin Shalih bin 'Utsaimin, Penyusun: Abdul Karim bin Shalih al Muqrin.
3. Ad-Durruts-Tsamin min Riyadhish-Shalihin, Abdul 'Aziz Sa'ad al 'Utaibi.
4. Mausu’ah Adab Islami, 'Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nidaa.
5. Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush-Shalihin, Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali.
6. Tafsir al Qur`anul-'Azhim, Ibnu Katsir.
7. Fathul Baari Syarah Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar al Asqalani.
7. Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami’ at-Tirmidzi, al Mubarakfuri.
8. Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi.
9. Shahih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani
READ MORE - Kunci Sukses Bermu'amalah

ENGKAU AKAN MENGALAMI 2 KEMATIAN DAN 2 KEHIDUPAN

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Sangat bagus sekali jika kita merenungkan sebuah ayat dalam Al Qur'an tepatnya dalam surat Al Mu'min (disebut pula surat Ghofir). Ayat tersebut menyebutkan bahwa masing-masing kita akan menjalani kematian sebanyak dua kali dan kehidupan sebanyak dua kali. Apa yang dimaksud dengan hal tersebut? Simak tulisan berikut.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ, قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): "Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir". Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" (QS. Al Mu’min [40]: 11)

Apa yang dimaksud mati dua kali dan hidup dua kali dalam ayat di atas?

Perlu diketahui bahwa ayat ini serupa dengan ayat,

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS. Al Baqarah [2]: 28)

Penjelasan Ulama

Yang dimaksud dengan ayat ini ada beberapa pendapat di kalangan ulama. Penafsiran yang dianggap kuat oleh Ibnul Jauzi sebagai berikut:

Kematian pertama adalah ketika dalam bentuk nuthfah (air mani), ‘alaqoh (segumpal darah) dan mudgoh (sekerat daging). Selanjutnya adalah dihidupkan dalam rahim. Lalu dimatikan lagi setelah hidup di dunia. Lalu akan dihidupkan lagi ketika dibangkitkan pada hari kiamat.

Penafsiran semacam ini dipilih oleh Ibnu ‘Abbas, Qotadah, Muqotil, Al Faro’, Tsa’lab, Az Zujaj, Ibnu Qutaibah, dan Ibnul ‘Ambari. (Lihat Zaadul Masiir, 1/39, Mawqi’ At Tafasir)

Asy Syaukani memberikan penjelasan sedikit berbeda. Beliau rahimahullah mengatakan,

Yang dimaksud dulu kalian dalam keadaan mati adalah waktu sebelum dicipta (belum ada). Karena boleh saja kita mengatakan mati pada sesuatu yang belum ada karena sama-sama tidak memiliki indera.

Kemudian yang dimaksud kalian lalu dihidupkan adalah ketika diciptakan menjadi makhluk.

Selanjutnya yang dimaksud kalian dimatikan kedua kalinya adalah ketika ajal kalian itu datang (dan dimasukkan dalam kubur).

Lalu yang dimaksudkan kalian dihidupkan kedua kalianya adalah ketika hari kiamat saat dibangkitkan.

Yang menafsirkan seperti ini adalah mayoritas sahabat dan ulama setelahnya. Ibnu ‘Athiyah mengatakan bahwa penjelasan ini adalah penafsiran yang dimaksudkan dalam ayat. (Fathul Qodir, 1/62, Mawqi’ Al Islam)

Adh Dhohak menyebutkan perkataan Ibnu ‘Abbas mengenai surat Al Mu’min ayat 11, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Dulu kalian berasal dari tanah sebelum diciptakan. Inilah kematian pertama. Lalu kalian dihidupkan dan diciptakan. Inilah kehidupan pertama. Kemudian kalian dimatikan kembali dan masuk ke alam kubur. Inilah kematian kedua. Kemudian nanti kalian akan dibangkitkan pada hari kiamat. Inilah kehidupan kedua. Itulah dua kematian dan dua kehidupan.” Hal ini sama maknanya dengan surat Al Baqarah ayat 28.

Penafsiran semacam ini diriwayatkan dari As Sudi dengan sanadnya, dari Abu Malik, dari Abu Sholih, dari Ibnu ‘Abbas; juga diriwayatkan dari Murroh, dari Ibnu Mas’ud dan dari beberapa sahabat. Begitu pula diriwayatkan dari Abul ‘Aliyah, Al Hasan Al Bashri, Mujahid, Qotadah, Abu Sholihk, Adh Dhohak, ‘Atho’ Al Khurasani semacam ini pula. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 1/331-332, Muassasah Al Qurthubah)

Renungan

Penjelasan ini menunjukkan bahwa kita akan mengalami kematian kedua yang entah kapan datangnya dan di mana datangnya. Kita pun dengan yakin akan menghadapi kehidupan kedua saat dibangkitkan. Sedangkan kematian pertama sudah kita lalui. Adapun kehidupan pertama sedang kita jalani saat ini.

Sungguh ayat-ayat berikut bisa sebagai renungan berharga. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".” (QS. Al Jumu’ah [62] : 8)

Kematian akan tetap menghampiri seseorang, walaupun dia berusaha bersembunyi di dalam benteng yang kokoh. Allah Ta’ala berfirman,

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الموت وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’ [4] : 78)

Jadi, kematian (maut) adalah benar adanya.

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaaf [50] : 19)

Manfaatkanlah umur yang Allah berikan dengan sebaik-baiknya, janganlah sia-siakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Ambillah lima perkara sebelum lima perkara: [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan,

كَفَى بِالمَوْتِ وَاعِظًا

“Cukuplah kematian sebagai peringatan (berharga).” (Diriwayatakan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd)

Dengan ingat akan mati, seseorang akan bersegera beramal dan tidak panjang angan-angan. Semoga risalah singkat ini bisa sebagai pengingat yang berharga.
READ MORE - ENGKAU AKAN MENGALAMI 2 KEMATIAN DAN 2 KEHIDUPAN

Jangan marah..!!

Islam adalah Agama yg sempurna / meliput segala aspek kehidupan.
Tiada kebaikan kecuali diperintahkan / di anjurkan dalam Islam dan Tiada keburukan kecuali dicegah dalam Islam. termasuk di antaranya adalah MARAH..!!

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَب

Dari Abu Hurairah Rodhiallahu 'anhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori )

Rosulullah mengulang nasehatnya “Jangan marah!” sampai dua kali, hal ini menunjukkan betapa diperhatikannya marah ini dalam Islam.

Rosululloh juga bersabda:" barang siapa yang meredam amarahnya sementara dia mampu meluapkanya maka Alloh akan memanggilnya di hari kiamat diatas kepala makhluk (dengan kemuliaan) sehingga di suruhnya memilih khurun "in (bidadari) yang di kehendakinya".

Marah adalah hal yang wajar tatkala manusia tidak menyukai sesuatu yang mengganggu dan menyakitinya, bahkan Rasulullahpun pernah marah. Namun beliau adalah sebaik-baiknya orang yang dapat mengendalikan marah. Inilah nasehat beliau kepada kaum muslimin tatkala marah,

Hendaknya segera diam

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

و إذا غضب أحدكم فليسكت

Jika salah satu dari kalian marah hendaknya diam (HR Bukhori)

Berta’awudz

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه

Jika seorang diantara kalian marah hendaknya dia mengatakan “A’udzubillah” (aku berlindung pada Allah) maka akan mereda kemarahannya. (dikeluarkan As Sahmy, dishahihkan Syaikh Albani rahimahullah dalam Shahih Al Jami’)

Mengganti Posisi Tubuh

Cara lain yang disyariatkan untuk meredakan kemarahan adalah mengganti posisi tubuh sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Dzar Rodhiyallahu ‘anhu

إذا غضب أحدكم و هو قائم فليجلس فإن ذهب عنه الغضب و إلا فليضطجع

Jika salah seorang diantara kalian marah sedangkan kalian dalam keadaan berdiri, hendaknya dia duduk, jika belum mereda hendaknya dia berbaring. (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban, dishahihkan Al Albani dalam Shohih Al Jami’)

Berwudhu

Dalilnya adalah hadits berikut:

إن الغضب من الشيطان وإن الشيطان خلق من النار وإنما تطفأ النار بالماء فإذا غضب أحدكم فليتوضأ

Sesungguhnya marah itu datangnya dari syetan, dan syetan diciptakan dari api. Dan sesungguhnya api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah satu diantara kalian marah hendaknya dia berwudhu’ (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Keutamaan Menahan Marah

Allah dan RasulNya telah menjanjikan buah dari kesabaran tatkala seseorang mampu menahan dan mengendalikan marah. Cukuplah janji Allah dan Rasulnya kita jadikan targhib

Mendapatkan Jannah

Dari Abu Darda’ Rodhiyallahu ‘anhu:

قال رجل لرسول الله صلى الله عليه و سلم دلني على عمل يدخلني الجنة قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تغضب ولك الجنة

Seorang laki-laki berkata pada Rasulullah, ”Tunjukkan padaku sebuah amalan yang dapat memasukkanku ke surga”, Rasulullah mengatakan, “Jangan marah, maka bagimu surga” (HR. Thabrani dengan 2 jalur, salah satunya dishahih-lighoirihi-kan Al Albani)

Jauh Dari Kemarahan Allah

عن ابن عمر رضي الله عنهما أنه سأل رسول الله صلى الله عليه و سلم ما يباعدني من غضب الله عز و جل قال لا تغضب

Ibnu Umar bertanya pada Rasulullah, “Amalan apa yang dapat menjauhkanku dari kemarahan Allah?” Lantas Beliau menjawab, “Jangan marah!” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, dihasankan Al Albani, Shohih Targhib wa Tarhib).

Dan sebagai penutup marilah kita resapi sebuah ungkapan yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

ليس الشديد بالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب

Bukanlah seorang yang kuat itu seorang menang dalam gulat, tapi seorang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya saat marah (Muttafaqun ‘alaih)

Semoga Allah melimpahkan HidayahNya pada kita, sehingga masing-masing kita mampu menguasi diri kita tatkala marah menghinggapi hati. Washallallau ‘ala nabiyyina Muhammad, walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.
READ MORE - Jangan marah..!!

JAGALAH OLEHMU PINTU ITU...............

Dalam Kitab-Nya yang Mulia, Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٲلِدَيۡنِ إِحۡسَـٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡڪِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ۬ وَلَا تَنۡہَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلاً۬ ڪَرِيمً۬ا (٢٣) وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً۬ا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"(Al-Isra’ :24).

Wahai Saudaraku.....

Sesungguhnya siapa yang mantadabburi ayat-ayat diatas niscaya dia akan mengetahui betapa Alloh Subhanahu Wata’ala menyandingkan kewajiban untuk beribadah hanya kepada-Nya saja, dengan kewajiban untuk berbuat baik kepada orangtua, taat kepada mereka, memelihara adab terhadap mereka dan menjaga serta meladeni mereka dengan penuh bakti dan kesabaran, terutama dimasa tua mereka, tatkala badannya renta, pandangannya rabun dan lemah raganya. Sungguh malang nian jika ada manusia yang menyia-nyiakan orangtuanya dimasa tua, hingga ia tidak masuk kedalam surga karena kurang baktinya. Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

رغم أنفه ثم رغم أنفه ثم رغم أنفه " قيل: من يا رسول الله! قال: "من أدرك والديه عند الكبر، أحدهما أو كليهما، ثم لم يدخل الجنة

“Sungguh celaka, sungguh celaka, dan sungguh celaka “,dikatakan kepada beliau siapa yang celaka Yaa Rosulalloh?, beliau menjawab ;” orang yang menjumpai salah seorang atau kedua orangtuanya dimasa tua, namun dia tidak masuk surga”.(HR.Muslim: 4628 )

Saudaraku......

Ketahuilah, Alloh Subhanahu Wata’ala telah mengisahkan kepada kita kisah-kisah keteladanan Para Anbiya (Nabi-nabi) dalam berbakti kepada orangtua agar kita menjadikannya contoh dalam berbuat baik kepada orangtua. Alloh Subhanahu Wata’ala menyebutkan Do’a Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Dia berdo’a :

رَّبِّ ٱغۡفِرۡ لِى وَلِوَٲلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيۡتِىَ مُؤۡمِنً۬ا وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَـٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارَۢا

Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan ( Nuh: 28)

Dan ingatlah bagaimana kisah Ibrahim ‘Alaihissalam , bapak para Nabi, kholilurrahman, Ia mendakwahi bapaknya dengan penuh adab dan kelembutan, mengajaknya kepada Islam dan keselamatan dengan rendah diri dan penuh pengharapan, lihatlah apa yang dikatakan Ibrahim ‘Alaihissalam tatkala ayahnya lebih mencintai kekafiran dan batu-batu pahatan yang ia pertuhankan, bahkan tatkala ayahnya mengacam akan merajam Ibrahim, maka Ibrahim berkata:

سَلَـٰمٌ عَلَيۡكَۖ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّىٓۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ بِى حَفِيًّ۬ا

"Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Maryam: 47)

Saudaraku.....

Ketahuilah, Orangtua kita adalah pintu surga yang paling tengah , banyak manusia yang menginginkan keselamatan, mereka mendambakan surga, menginginkan kebaikan yang kekal abadi, tapi lihatlah banyak mereka yang lupa, banyak mereka yang lalai dari berbuat baik kepada orang tua mereka, mereka lupa mengetuk pintu surga yang paling tengah yang sebenarnya pintu itu ada didekat mereka.

Sekali lagi pintu surga yang paling tengah itu ada didekat kalian, namun kalian tidak menyadarinya, pintu surga itu sedih, dia mengeluh tapi keluhannya tidak pernah engkau dengar, pintu surga itu selalu berdo’a dimalam-malam yang dingin dikala ia mengingat kembali dua puluh tahun yang lalu, tiga puluh tahun yang lalu, empat puluh atau bahkan lima puluh tahun yang lalu, disaat letihnya badan dimasa kehamilan, beratnya perjuangan dikala melahirkan, semua rasa itu seolah hilang dengan tangis mungil kita, ya, semua derita lenyap tanpa bekas, tatkala kita pertama kali menghirup udara dan mendengar bisingnya dunia. pintu itu masih mengingat jelas saat ia menimang kita dan menyuapi kita dengan sabar......., tapi, kini usia memakannya, raganya telah rapuh, lumut telah merayapinya, udara malam serasa menembus tulang yang hanya berbalutkan kulit tipis nan keriput. pintu itu membutuhkan kita untuk terus tegak, memberikan kesempatan kepadamu untuk segera memasukinya sebelum ia tertutup rapat dan tak bisa engkau buka lagi walau engkau kumpulkan seluruh kekayaan yang engkau banggakan, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

الوالد أوسط أبواب الجنة فإن شئت فأضع ذلك الباب أو احفظه

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Terserah padamu, apakah engkau akan menyia-nyiakan pintu itu atau memeliharanya.”(HR.Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah )

Saudaraku.....

Bergegaslah menuju pintu itu ketika ia masih dapat terbuka, mintalah maafnya jika selama ini kita telah lalai, tampakkanlah muka penyesalan dan airmata perubahanmu, kecup keningnya, peluk badannya dan rengkuhlah jiwanya untuk kemudian engkau muliakan.

ketahuilah wahai kaum Muslimin.....

jangan engkau merasa telah berjasa dihadapannya, jangan engkau anggap baktimu telah cukup untuk membalas kasihnya. Demi Alloh apa yang telah kita perbuat tidak mampu mengobati sakitnya ibu tatkala melahirkan, Demi Alloh.., sekalipun banyaknya harta yang engkau berikan pada mereka tidak mampu menghapuskan kekhawatirannya terhadapmu dikala tangisanmu membangunkan tidur mereka, dikala panas badanmu tak kunjung reda, dan dikala pucat mukamu diwaktu demam.

Ibnu Umar Rodhiyallohu ‘Anhuma pernah melihat seorang lelaki menggendong ibunya diwaktu thawaf. Lelaki itu bertanya kepada Ibnu Umar :

فهل بذلك أكون قد وفيت حقها

“Apakah perbuatanku ini telah melunasi jasanya kepadaku wahai Ibnu Umar?”

Beliau Rodhiyallohu ‘Anhuma menjawab :

لا ولو بطلقة واحدة من الطلقات التي أطلقتها عند ولادتك

“Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan disaat persalinan”.

Kupersembahkan buat Keduaorangtuaku yang sangat kucintai, do’a kalian senantiasa kuharapkan. Duhai Ayah, Duhai Ibu... berkahi langkahku untuk Ilmu, ya, Insya Alloh Ilmu yang akan membawa kebajikan untukku, untuk Ayah, untuk Ibu Untuk semua bahkan Untuk Ummat.....

Hanya Do’a yang bisa kubisikkan kepada Rob kita, agar Ia senantiasa menjaga Ayah dan Ibu, dan memberkahi setiap langkah kita.
READ MORE - JAGALAH OLEHMU PINTU ITU...............

kiamat itu akan datang(baca saja kalau mau kalau nggak ya nggak apa apa)

terlintaskah
suatu nanti,ketika titah tertinggi diturunkan
betapa akan hancurnya dunia facebook ini

akan berleburnya setiap kata yang kita ketik
setiap gambar yang kita masukkan
mungkin
setiap seorang warga akan sangat terhentak
oh apa yang terjadi
kiamat kiamat mungkinlirihnya akan menyadari

dan setiap sesorang akan melihat
hancurnya kemegah megahan rumah facebooknya yang telah dibangun
tak mungkin tersisa
semua melebur

halaman yang telah dibangga banggakan karena banyak penggemar
dan juga nama warganya yang sudah tenar
tak bernilai lagi

dulu
foto manis yang terpancar
nanti entah mengapa tak ada satupun yang menghiraukan lagi

disitu nanti sudah tak ada lagi pujian pujian seperti biasanya
tak ada lagi
terimakasih notenya
tak adalagi terimakasih addnya

hanya keadaan negri facebook diluluh lantahkan
akan hilang kebanggaan
akan hilang kesenangan

semoga kita diberi waktu memperbaikinya
READ MORE - kiamat itu akan datang(baca saja kalau mau kalau nggak ya nggak apa apa)

Wanita......

Ali r.a. meriwayatkan sebagai berikut:

Saya bersama-sama Fathimah berkunjung kerumah Rasulullah, maka kami temui beliau sedang menangis. Kami bertanya kepada beliau:
"Apakah yang menyebabkan engkau menangis wahai Rasulullah?
Beliau menjawab,
"Pada malam aku diIsrakan ke langit, saya melihat orang-orang yang sedang mengalami penyiksaan, maka apabila aku teringat keadaan mereka, aku menangis."

Saya bertanya lagi, "Wahai Rasulullah apakah engkau lihat?" Beliau bersabda:

1. Wanita yang digantung dengan rambutnya dan otak kepalanya mendidih.

2. Wanita yang digantung dengan lidahnya serta tangan dicopot dari punggungnya, aspal mendidih dari neraka dituang ke kerongkongnya.

3. Wanita yang digantung dengan buah dadanya dari balik punggungnya, sedang air getah kayu Zakum dituangkan ke kerongkongnya.

4. Wanita yang digantung, diikat kedua kaki dan tangannya kearah ubun-ubun kepalanya, serta dibelit dan dibawah kekuasaan ular dan kala jengking.

5. Wanita yang memakan badannya sendiri, serta dibawahnya tampak api yang berkobar-kobar dengan hebatnya.

6. Wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka.

7. Wanita yang bermuka hitam serta dia makan usus-ususnya sendiri.

8. Wanita yang tuli, buta dan bisu didalam peti neraka, sedang darahnya mengalir dari lubang-lubang badannya (hidung, telinga, mulut) dan badannya membusuk akibat penyakit kulit dan lepra.

9. Wanita yang berkepala seperti kepala babi dan berbadan himmar (keldai) yang mendapat berjuta macam siksaan.

10. Wanita yang berbentuk anjing, sedangkan beberapa ular dan kala jengking masuk melalui duburnya atau mulutnya dan keluar melalui duburnya, sedangkan malaikat sama-sama memukuli kepalanya dengan palu dari neraka.

Maka berdirilah Fatimah seraya berkata,
"Wahai ayahku, biji mata kesayanganku, ceritakanlah kepadaku, apakah amal perbuatan wanita-wanita itu."

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Fatimah, adapun tentang;

1. Wanita yang digantung dengan rambutnya kerana tidak menjaga rambutnya (dijilbab) dikalangan laki-laki.

2. Wanita yang digantung dengan lidahnya, karena dia menyakiti hati suaminya, dengan kata-katanya."

Kemudian Nabi s.w.a. bersabda: "Tidak seorang wanita pun yang menyakiti hati suaminya melalui kata-kata, kecuali Allah s.w.t. akan membuat mulutnya kelak dihari kiamat selebar tujuh puluh dzira kemudian akan mengikatkannya dibelakang lehernya."

3. Adapun wanita yang digantung dengan buah dadanya, karena dia menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.

4. Adapun wanita yang diikat dengan kaki dan tanganya itu, kerana dia keluar rumah tanpa seizin suaminya, tidak mandi wajib dari haid dan dari nifas (keluar darah setelah melahirkan).

5. Adapun wanita yang memakan badannya sendiri, kerana dia bersolek untuk dilihat laki-laki lain serta suka membicarakan aib orang lain.

6. Adapun wanita yang memotong-motong badannya sendiri dengan gunting dari neraka, dia suka menonjolkan diri (ingin terkenal) di kalangan orang banyak, dengan maksud supaya mereka (orang banyak) itu melihat perhiasannya, dan setiap orang yang melihatnya jatuh cinta padanya, karena melihat perhiasannya.

7. Adapun wanita yang diikat kedua kaki dan tangannya sampai keubun-ubunnya dan dibelit oleh ular dan kalajengking, kerana dia mampu untuk mengerjakan solat dan puasa, sedangkan dia tidak mau berwudhu dan tidak solat dan tidak mau mandi wajib.

8. Adapun wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan badannya seperti keledai (himmar), karena dia suka mengadu-domba serta berdusta.

9. Adapun wanita yang berbentuk seperti anjing, kerana dia ahli fitnah serta suka marah-marah pada suaminya.


Dalam sebuah hadis Nabi s.a.w. bersabda: empat jenis wanita yang berada di syurga dan empat jenis wanita yang berada di neraka dan beliau menyebutnya di antara empat jenis perempuan yang berada di syurga ialah:

1. Perempuan yang menjaga diri dari berbuat haram lagi berbakti kepada Allah dan suaminya.
2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kekurangan (dalam kehidupan) bersama suaminya.
3. Perempuan yang bersifat pemalu, dan jika suaminya pergi maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya, dan jika suaminya datang ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
4. Perempuan yang ditinggal mati suaminya dan mempunyai anak masih kecil lalu menahan dirinya untuk kawin lagi karena ingin mengurus anak-anak dan mendidik serta memperlakukannya dengan baik, dan bersedia kawin lagi karena khawatir anaknya akan sia-sia / terlantar.

Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: Dan adapun empat jenis wanita yang berada di neraka ialah:

1. Perempuan yang jelek (jahat) mulutnya terhadap suaminya, jika suaminya pergi, maka ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminnya datang ia memakinya (memarahinya).
2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang ia tidak mampu.
3. Perempuan yang tidak menutupi dirinya dari kaum lelaki dan keluar dari rumahnya dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik perhatian kaum lelaki).
4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum dan tidur dan ia tidak senang berbakti kepada Allah, Rasul-Nya dan suaminya.

Oleh kerana itu seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat (empat) ini, maka ia dilaknat termasuk ahli neraka kecuali jika ia bertaubat.

“ Wanita mana saja yang memakai kalung untuk dipamerkan kepada orang lain, maka di hari kiamat ia akan dikalungi api neraka sebesar kalung itu dan bila memakai anting-anting untuk dipamerkan maka telinganya akan digantungi api neraka sebesar anting-anting itu “. ( H.R Nasai )

“ Jika seorang wanita memakai minyak wangi selain untuk suaminya, maka sesungguhnya itu adalah api neraka dan suatu aib yang buruk.” (Thabrani )


“ Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian dan melewati kumpulan orang-orang sehingga mereka mencium bau harumnya, maka ia adalah pezina “.( H.R Nasa`i, Ahmad, Hakim )


Ibnu Abbas ra. Berkata, Nabi saw bersabda :
“ Seorang perempuan, apabila keluar dari pintu rumahnya dengan berhias dan memakai wangi-wangian, sedang suaminya ridha padanya (dengan hal itu), maka dibangunkan untuk suaminya itu sebuah rumah di neraka sebanyak langkah yang dilangkahkannya ( istrinya ).

Naudzubillah min dzalik…..

Sumber:
Grup FB Para Perindu Surga
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) [Q.S An Nuur: 26]
READ MORE - Wanita......